Al-Ghazali dan Ibu yang Diumpat

Sejak dua hari lalu saya merencanakan untuk segera mulai membaca buku yang berisi dialog antara Arnold Toynbee dengan Daiseku Ukeda. Minggu kemarin saya sudah membaca buku yang mengisahkan dialog teologi antara Kardinal Martini, Uksup Kota Milan, dengan Umberto Eco, seorang ahli semiotik yang juga terkenal sebagai novelis. Saya sudah membaca salah satu novelnya yang paling terkenal, Name of the Rose.

Tapi karena pikiran saya sedang lelah dan kondisi fisik rasanya sedang memburuk, saya menangguhkan rencana itu. Dini hari tadi, menjelang tidur, saya putuskan saja untuk membaca buku yang kupikir lebih ringan: “Karung Mutiara al-Ghazali”.

Buku ini berisi sekitar 50-an cerita-cerita bijak yang pernah dikisahkan oleh al-Ghazali, pengarang Ihya Ulumuddin yang juga dijuluki Hujjatul Islam itu. Tak sampai satu jam, buku ini sudah berhasil saya selesaikan. Dan saya menemukan –setidaknya—dua cerita bijak al-Ghazali yang menarik. Dua cerita itu menarik karena memiliki kadar metaforik yang kuat dan satire yang berkadar humor cerdas.

Baiklah, saya sadur saja dua cerita itu, tentu saja dengan gaya bahasa saya. Dua cerita itu masing-masing berjudul “Umpatan” dan Pecinta”.

Umpatan:

Seseorang datang menemui Syekh al-Hasan. Dia bercerita bahwa dirinya baru saja diumpat oleh si Fulan. Syekh al-Hasan justru menyuruh orang tersebut untuk kembali menemui si Fulan.

“Ingat, kata ulama, orang yang suka mengumpat memasang senjata untuk melemparkan kebaikannya ke barat dan timur, serta ke kanan dan ke kiri,” kata Syekh al-Hasan.

Orang tadi lantas menuruti nasihat Syekh al-Hasan. Dia tak sekadar menemui tapi juga membawakan sebakul kurma rutab. Sembari menyerahkan sebakul kurma yang dibawanya, ia berkata dengan tenang: “Aku mendengar kabar bahwa engkau telah menghadiahkan kebaikanmu kepadaku. Maka terimalah kirimanku sebagai ucapan terimakasih.”

Apa lagi sebenarnya yang dikatakan Syekh al-Hasan hingga lelaki yang diumpat itu bisa sebaik demikian pada orang mengumpatnya? Ternyata, Syekh al-Hasan –seperti dikisahkan oleh al-Ghazali—mengutipkan satu nasehat yang pernah didengarnya dari Syekh Ibn Mubarak.

Bunyinya pendek sekali: “Jika aku suka mengumpat, tentu aku mengumpat ibuku, sebab ibuku berhak menerima kebaikanku.”

Pecinta

Sekelompok orang berkunjung menemui seorang guru sufi bernama Asy-Syibli. Guru sufi menyambutnya dengan terbuka.

“Kalian ini siapa?” tanya Asy-Syibli.

“Kami ingin meminta nasehat, petunjuk atau ilmu apa saja yang bisa diberkan pada kami. Kami adalah para pencintamu,” jawab mereka dengan meyakinkan.

Mendengar jawaban itu, Asy-Syibli malah memunguti kerikil di sekitarnya dan melempari mereka dengan kerikil yang dipungutnya tadi. Demi menyaksikan dan menyadari bahwa diri mereka dilempari oleh orang yang mereka sangat cintai, mereka pun lari terbirit-birit.

Dari kejauhan, Asy-Syibli berseru: “Kalian mencintaiku. Tapi kenapa kalian melarikan diri dari bencanaku?’

—————————————————-

: Baca catatan-catatan saya yang lain di kuburan pejalanjauh

Explore posts in the same categories: agama-spiritualitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: