Aktivitas Soeharto pada 27 Januari 1969 dan 1971

Satu jam setelah Soeharto meninggal, saya langsung mengobrak-abrik perpustakaan kantor. Aneh bin ajaib, dari ribuan buku yang bertumpuk dan berserak, saya hanya menemukan satu buku biografi Soeharto: Jejak Langkah Pak Harto: 28 Maret 1968 – 23 Maret 1973.

Padahal, saya ingat, beberapa bulan sebelumnya ada satu set buku biografi Soeharto dalam berbagai bahasa, termasuk buku terkenal berjudul “The Smiling General”, yang kelak menjadi salah satu julukan bagi Soeharto.

Saya belum sempat menelusuri perpustakaan di lantai bawah kantor dan di rungan chief editor saya. Jadi, hingga postingan ini ditulis, saya baru membaca buku Soeharto yang satu itu. Ini bukan biografi Soeharto. Buku ini lebih tepat dibaca sebagai kronik seorang Soeharto; di mana aktivitas Soeharto sebagai Kepala Negara dipaparkan day to day.

Lalu saya menelusuri entri bertanggal 27 Januari, tanggal kematian Soeharto. Hasilnya, dari 5 tahun aktivitas Soeharto yang dipaparkan buku ini, hanya tanggal 27 Januari pada 1969 dan 1971 saja yang tersedia. Ngapain aja Soeharto pada 39 tahun dan 41 tahun yang lalu pada tanggal yang kelak menjadi hari kematiannya?

Saya ketik ulang saja dari buku tersebut:

Senin 27 Januari 1969:

1. Presiden Soeharto, baik atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia maupun secara pribadi, menyampaikan ucapan selamat dan do’a atas terpilihnya Richard Nixon sebagai Presiden AS. Hal ini terungkap dalam surat Presiden Soeharto kepada Presiden Nixo. Presiden Soeharto juga menyampaikan harapannya semoga kedua negara akan dapat selalu bekerjasama dalam mecniptakan perdamaian dunia, memelihara stabilitas politik dan ekonomi di Asia Tenggara dan dalam mewujudkan penghidupan yang lebih layak bagi rakyat di negara-negara berkembang.

2. Presiden Soeharto ketika menerima pimpinan KAPPI di Istana Merdeka hari ini mengajak anggota-anggota organisasi itu untuk meningkatkan pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk pembangunan. Delegasi KAPPI menghadap Presiden untuk menyampaikan aporan mengenai kesediaan KAPPI membantu Repelita, yaitu dengan jalan mengubah kegiatan dari bentuk-bentuk politik kepada pendidikan dan pembangunan. Usaha KAPP tersebut mendapat sambutan yang baik dari Presiden. Dalam hubungan ini Jenderal Soeharto menasihatkan agar KAPPI tetap berpegang pada Pancasila dan UUD 1945. Ditambahkan pula oleh Presiden bahwa demonstrasi tidak lagi sesuai keadaan sekarang ini, sebab dalam masa pembangunan, cara-cara seperti itu menguanggu ketentraman dan ketenangan serta usaha stabiliasi politik ang teah dirintis.

Rabu, 27 Januari 1971

Presiden Soeharto meminta agar para Gubernur dan Bupati mengajak semua partai politik dan organsasi karya memina pengertian kesaaran politik yang sehat, kesadaran hidup bernegara, yang mengatur rumah tangga pembangunan daerah, melalui DPRD. Juga diminta untuk merombak sikap mental dan pola warisan Orde Lama atau liberal dulu. Sikap mental dan pola pikiran lama sepert “politik memegang komando”, “kebabasan untuk kebebasan”, “perang ideologi” harus kita tinggalkan jauh-jauh, sebab memang tidak ada gunanya dan hanya menimbulkan kekacauan saja. Diingatkan bahwa masalah ideologi bukan persoalan dan tidak boleh dipersoalan lagi karena ideologi sudah jelas Pancasila. Demikian dikatakan Presiden Soeharto di depan rapat Gubernur dan Bupat seluruh Indonesia di Istana Merdeka hari ini.

Menyinggung tentang pembaharuan politik, Presiden mengatakan bahwa pembaharuan kehidupan politk harus didorong maju dan masyarakat pun kut serta. Tetapi pembaharuan struktur politik yang dikehendai masyarakat itu jangan sampai menimbulkan kegoncangan-kegoncangan yang mengganggu pembangunan dan proses ini pun harus tumbuh dari bawah, bukan dipaksakan dari atas oleh penguasa. Selanjutnya dikatakan bahwa kepentingan daerah dan pusat atau pembangunan daerah dan nasional bukan merupakan hal yang perlu bertentangan. Kedua hal itu harus dikembangkan secara seimbang, lebih-lebih bila diingat bahwa kepala daerah juga merupakan alat pusat dan alat daerah. Proyek-proyek nasional yang semuanya terletak di daerah haruslah dimnafaatkan untuk pengembangan programprogram pembangunan daerah. Bukan dengan meminta fasilitas atau membebani pungutan daerah kepada proyek-rpoyek itu melainkan dengan mengembangkan efek-efek ekonomi.

Bagi saya sendiri, dua aktivitas Soeharto pada 27 Januari 1969 dan 1971 itu penting karena beberapa hal:

Pertama, aktivitas Soeharto untuk mengirimi ucapan selamat pada Nixon yang baru memulai karirnya sebagai Presiden ternyata bersamaan tanggalnya dengan hari kematian Soeharto, momen yang mengakhiri karir Soeharto baik sebagai manusia maupun sebagai “zoon politicon”. Pada tanggal yang sama, tapi beda tahun, Soeharto akhirnya menerima ucapan belasungkawa, berikut ucapan selamat jalan untuk terakhir kalinya. Nixon memulai karirnya sebagai Presiden pada 27 Januari, Soeharto mati pada 27 Januari. Nixon akhirnya lengser di tengah masa jabatan karena kasus “watergate”, Soeharto juga lengser di tengah masa jabatannya.

Kedua, aktivitas dan ucapan Soeharto kepada KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) bisa mencerminkan bagaimana visi Soeharto tentang angkatan muda Indonesia. Visi Soeharto dalam bidang itu adalah visi depolitisasi palajar dan mahasiswa. Pelajar dan mahasiswa diinginkannya cukup belajar di kampus dan tak usah ikut-ikutan berpolitik, baik praktis maupun politik ekstra-parlementer melalui unjuk rasa, dll. Kebijakan ini menemukan kesempurnaannya sewaktu pada 1978, melalui Mendibud Daoed Joesoef, dilansir konsep NKK/BKK yang secara eksesif mendepolisir kampus sebagai salah satu kantong gerakan politik ekstra parlementer.

Ketiga, aktivitas dan ucapan Soeharto sewaktu berbicara di hadapan kepala daerah se-Indonesia juga mencerminkan bagaimana visi Soeharto mengenai (1) hubungan pusat dan daerah dan mengani (2) poros pembangunan masa Orde Baru.

Mengenai yang pertama, Soeharto dalam pertemuan itu sudah berbicara tentang bagaimana “daerah” itu sebagai “alat pusat”. Semua proyek-proyek yang dibangun daerah diberi garis bawah sebagai “kepentingan nasional”, yang bisa dibaca sebagai “kepentingan Jakarta”, “kepentingan pusat”. Dan inilah yang memang kita saksikan selama Orde Baru. Daerah, seperti yang sudah banyak ditulis, hanya menjadi “lumbung” bagi Jakarta. Pemerataaan ekonomi berlangsung dengan timpang. Konsentrasi kemajuan, uang dan pembangunan melulu berputar-putar di Jakarta.

Mengenai yang kedua, Soeharto juga pada kesempatan itu sudah dengan eksplisit menyatakan bahwa kepemimpinan dia akan menetapkan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi sebagai poros utama. Dengan tegas dia mengatakan: “Sikap mental dan pola pikiran lama sepert “politik memegang komando”, “kebabasan untuk kebebasan”, “perang ideologi” harus kita tinggalkan jauh-jauh, sebab memang tidak ada gunanya dan hanya menimbulkan kekacauan saja.”

Inilah yang memang terjadi kemudian. Ekonomi menjadi panglima. Sementara politik seperti menjadi barang tabu. Persepsi terhadap politik sebagai hal yang kotor dikembangkan sedemikian rupa oleh Soeharto untuk mengeliminasi minat dan naluri warga negara untuk berpolitik. Depolitisasi massa pedesaan pun hanya tinggal menunggu waktu melalui konsep yang kelar dilansir sebagai “konsep massa mengambang”.

Ya, inilah yang bisa saya catat dari musyawarah buku yang saya gelar bersama buku berjudul “Jejak Langkah Pak Harto: 28 Maret 1968 – 23 Maret 1973” pada hari kematian Soeharto, The Smiling General.

———————-

Dari sumber-sumber lain, saya juga menemukan beberapa aktivitas Soeharto lainnya yang dilakukan pada 27 Januari, tanggal yang kelak menjadi hari kematiannya. Berikut beberapa data yang saya dapatkan:

27 Januari 1998

Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dibentuk. Dalam bayangan Soeharto, tentu saja setelah menerima input dari kanan-kiri, institusi ini bisa membantu pemerintah menyehatkan kembali dunia perbankan yang terpuruk akibat meroketnya nilai mata uang dolar terhadap rupiah. Hasilnya? Ternyata banyak dana negara yang lenyap melalui BPPN, langsung atau tidak.

27 Januari 1995

Soeharto menandatangani Keputusan Presiden NO. 5 Tahun 1995 mengenai kerjasama dengan RRC untuk peningkatan dan perlindunan atas penanaman modal beserta protokolnya.

25 Januari 1994

Soeharto menandatangani Keputusan Presiden No. 3 Tahun 194 tentang pemberian fasilitas kredit kepada anggota Badan Pemeriksa Keuangan untuk pembelian kendaraan pribadi. Dalihnya: “Untuk membantu kelancaran tugas sehari-hari anggota Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia, dipandang perlu memberikan kemudahan kepada anggota yang bermaksud untuk memiliki kendaraan perorangan dalam bentuk fasilitas kredit pembelian kendaraan perorangan”.

Fasilitas dalam Kepres ini, secara teknis, langsung merujuk angka Rp. 30.000.000,- (tiga puluh juta) rupiah untuk setiap anggota.

27 Januari 1979

Soeharto memimpin Sidang Kabinet yang menghasilkan satu keputusan tegas: “Khonghucu BUKAN agama.” Keputusan ini lantas ditindaklanjut dengan keluarnya SK Menteri Dalam Negeri dengan nomor 77/2535/POUD terbit pada tanggal 25 Juli 1990. Sekali lagi, Surat ini menegaskan bahwa ada lima agama di Indonesia: Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, dan Buddha.

———————————

: Baca catatan-catatan saya yang lain di kuburan pejalanjauh

Explore posts in the same categories: biografi

3 Comments on “Aktivitas Soeharto pada 27 Januari 1969 dan 1971”


  1. [...] rincian tanggal 27 Januari lainnya selama menjabat Presiden dapat dilihat disambungan berikut: Aktivitas Soeharto bagian ke-1, Aktivitas bagian ke-2, Aktivitas Soeharto bagian [...]

  2. Sudarno Says:

    Sy masih menyimpan foto almarhum Jendral Besar Bintang Lima, Soeharto. Yg mana foto pada foto tsb almarhum masih berambut hitam dan berpakaian jendral.

  3. ipank Says:

    buku yang judulnya KENAPA HARUS SOEHARTO ADA GAG???


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: