Hassan Hanafi seorang Fundamentalis!

Dia dituding oleh kalangan kiri progresif sebagai ikhwani (baca: anggota Ikhwanul Muslimin), sebaliknya, oleh kalangan kanan-konservatif dia justru dicap sebagai komunis. Oleh tentara, namanya diberi jelaga sebagai ikhwani-komunis. Lantas, mana yang benar: Islam radikalis, komunis, atau…?

Selain menampik tegas tiga stereotip itu, lewat autobiografi berjudul Aku Bagian dari Fundamentalisme Islam ini, Hasan Hanafi menjelaskan ikhtiarnya yang tak kenal sudah di bidang pembaharuan (pemikiran) Islam dan juga sikap dan posisinya dalam hal fundamentalisme Islam, baik sebagai ide maupun praksis gerakan.

Fundamentalisme Islam baginya adalah gerakan yang memiliki visi dan pembentukan manusia seutuhnya agar mampu menggalang persatuan dan menjaga identitasnya. Ia tidak mesti menyeru penegakkan negara Islam tapi terlahir sebagai gerakan pembebasan negeri dari kaki tangan penjajah, baik di Sudan, Afghanistan, dll.

Ia menolak asumsi generalis yang memandang fundamentalisme Islam semata sebagai konservatisme, keterbelakangan dan penolakan terhadap peradaban modern. Dengan itu ia menolak, diantaranya, simpulan Roger Garaudy ihwal fundamentalisme yang katanya berakar pada statisme (penolakan terhadap segala bentuk penyesuaian dan perkembangan), kembali kepada masa lalu secara membabi-buta (berafiliasi pada turâts, konservatif) dan intoleransi (tertutup, fanatisme madzhab).

Ia yakin, setiap sistem atau negara yang ada di dunia ini berasaskan suatu pandangan tertentu, sebuah fundamentalisme. Sebagaimana negara kapitalis yang berdasar free market atau negara sosialis beralaskan keadilan sosial, negara Islam tentu didasarkan pada pandangan Islam. Fundamentalisme Islam, dalam salah satu maknanya, berusaha untuk merumuskan pandangan itu dan mengetrapkannya: membangun sistem Islam dan mempertahankannya.

Ia bergulat dan bergelut langsung dengan ikhtiar itu. Bayangkan, di usia amat belia, 22 tahun (di Indonesia setara dengan mahasiswa yang baru saja KKN), ia pernah menyusun ambisi menggelegak yakni menyusun “Metodologi Islam Komprehensif”; sebuah reformulasi Islam sebagai sebuah metode universal dan komprehensif dalam kehidupan individu dan masyarakat. Louis Massignon, orientalis yang piawai soal al-Hallaj, tersenyum membaca proposal penelitian Hanafi itu. Ia bilang, megaproyek macam itu layak dilakukan oleh orang dengan usia 80 tahun yang telah kuasai ragam metodologi, baik Barat atau Islam.

Ia memang tak teruskan proyek prestisius-ambisius itu. Tetapi sejak itu, ia tak henti-hentinya berpikir, meneliti dan menulis ide-ide yang bisa dijadikan sebagai poros bagi pembaharuan Islam. Itu semua adalah titik hela (starting point). Soal arti penting titik hela (starting point), ia belajar banyak dari gurunya, Henry Bergson. Naik gunung dari lembah, tulis Hanafi, “Lebih baik daripada melompat langsung ke puncaknya dari helikopter.”

Ia menyebutnya sebagai fundamentasi yang, “…akan dimulai setelah umur 50 tahun, bahkan mungkin 60 tahun, ketika manusia terlepas dari segala beban dunia dan hawa keinginan dan mengorientasikan diri hanya untuk penelitian ilmiah yang dikokohkan dengan aksi-aksi…”. Diam-diam, pencarian titik hela itu justru menjadi pencarian utamanya.

Dan itu berarti harus terus berpikir. Ia memang tak berpretensi untuk bisa terlibat secara, pinjam frase sajaknya Ch. Anwar, “penuh seluruh” dengan praksis gerak revolusi. Pada akhirnya tulisan-tulisan Hanafi, seperti yang dikritik Issa J. Boulata, memang menjadi sangat teoritik. Dan Hanafi tak menampik kritik itu.

Tetapi tak berarti ia tak pernah sekalipun terlibat dalam dunia aktivisme politik Islam. Sama sekali tidak. Ia, misalnya, sudah jadi aktivis Ikhwanul Muslimin sejak mahasiswa. Ia pernah masuk ke Partai Kesatuan Nasional di Mesir yang beraliran Kiri Progresif. Tak aneh jika ia juga banyak meneliti gerakan-gerakan Islam kontemporer, baik gerakan yang paling “kanan” hingga yang paling “kiri”. Di buku ini, Hanafi juga mempresentasikan salah sebuah penelitiannya tentang gerakan Islam kontemporer, dengan sampel Ikhwanul Muslimin. Banyak hal yang bisa dipelajari dan dituai hikmahnya dari kiprah gerakan ini. Ia menginventarisir, setidkanya, sepuluh kelebihan dan sepuluh kelemahan gerakan ini.

Dari perjalanan dan keterlibatannya itulah ia menulis: “Fundamentalisme Islam mengemuka sendiri sebagai satu-satunya fakta sejarah yang masih tersisa sepanjang zaman, serta sebagai pelindung Islam melawan Barat.” (hal. 130). Hanafi, sekali lagi, memang tak bisa dipisahkan dari fundamentalisme Islam, baik sebagai sebuah ide maupun sebagai sebuah praksis gerakan.

Jika yang menulis itu bukan Hanafi, kita bisa dengan mudah menertawakan. Tapi, karena Hanafi yang menulis, sosok yang dengan kukuh mengklaim sebagai bagian fundamentalisme Islam, baik sebagai ide atau praksis gerakan, tesis itu tak bisa dengan sekenanya ditertawakan.

Dan ia konsisten dengan hal itu. Setidaknya hingga kini. Resiko pun harus ia tanggung. Ia, misalnya, pernah di-persona non grata-kan oleh pemerintah Maroko karena berpidato di depan mahasiswanya. Kala itu ia bicara betapa Islam tak memperkenankan muslim untuk mencium tangan, pundak atau kaki penguasa. Sikapnya yang keras itu pernah pula memaksanya meninggalkan Mesir dan pergi ke Amerika untuk beberapa tahun.

Hanya saja, aktivitas dan kedekatannya dengan banyak gerakan fundamentalis itu tak sukses memikatnya untuk terus berada di jalur “praktis”. Ia adalah pemikir—ia sebut dirinya sebagai pemikir revolusi. Ia (cuma) mempersonifikasi diri sebagai Marx, yang dengannya ia bermaksud menulis Das Kapital versi Islam. Ia persilakan orang lain berperan sebagai Lenin atau Mao, yang kelak akan mempraksiskan teori(revolusi)nya. “Keputusan saya bulat bahwa filsafat adalah pekerjaan saya, sementara politik adalah sekadar hobi,” tulisnya.

Dari sekujur jasad ini buku, kesaksian Hanafi ihwal lahirnya puspa ragam kesadaran diri menjadi bagian termenarik dan paling memikat buat dicamkan. Ia paparkan kelahiran kesadarannya akan filsafat, tentang keberagamaan, ihwal hidup hingga kesadaran mengenai politik hingga revolusi. Satu per satu kelahiran ragam kesadaran itu secara garis besar diurainya dengan gaya khas sebuah autobiografi, subyektif.

Itulah kisah hidup Hassan Hanafi. Sosok kontroversial yang namanya sedang berkibar di langit-langit aras gerakan pembaharuan Islam. Ia memang tak bergelut secara fisik pada medan perlawanan, baik terhadap penguasa represif maupun pada Barat. Tapi bukan berarti dengan mudah kita bisa kategorikan ia sebagai intelektual salon, yang suntuk di sesela almari buku tapi gagap sewaktu selusuri realitas.

Ia tentu saja bukan sosok tanpa cela dan bukan pula pemikir nirkritik. Tetapi, setidaknya, ia konsisten dan terus selantangnya menyuarkan ide-ide pembaharuan Islam dan perlawanan pada, utamanya, Barat yang masih pula memosisikan Islam sebagai seteru seraya konsisten mengampanyekan Islam dengan citra yang pekat dengan distorsi. Ia adalah pemeluk teguh Islam, kapanpun dan di manapun ia tegak. Semua-muanya itu membentuk sebuah riwayat yang panjang, enigmatik. Simaklah pengakuannya, “Saya adalah anak fundamentalisme Islam; sejarah obyektifnya adalah sejarah hidup saya.”

———————————-

:: Baca catatan-catatan saya lainnya di kuburan pejalanjauh

Explore posts in the same categories: biografi

One Comment on “Hassan Hanafi seorang Fundamentalis!”

  1. catur Says:

    … yg paling menarik bagi saya adalah saat Hasan Hanafi mengusulkan lambang Ikhwanul Muslimin berupa Al_Quran diapit pedang digabti dengan Al-Qur’an diapit meriam… karena bukan jamannya lagi perang pakai pedang, tapi meriam…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: