Filsafat yang “Egois”

Johann Gottlieb Fichte benar-benar filsuf yang amat asing buat saya. Kalau tidak salah, filsuf ini pertama kali aku baca namanya di novel Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder. Tapi, seperti apa pandangan dan ide-idenya saya betul-betul awam, tak tahu barang secuil pun. Mengenaskan sekali saya ini. Hehehe….

Sewaktu kemarin sore saya menemukan bukunya Henry D. Aiken, The Age of Ideology, saya langsung saja tancap gas menuju bab II yang memaparkan pandangan filsafat Fichte, filsuf yang di awal karirnya sebagai filsuf tampil penuh semangat sebagai pembela semangat individualisme yang dikobarkan oleh Revolusi Prancis. Sayangnya, dari seorang yang begitu semangat membela kebebasan individu dari segala macam otoritas, karir filsuf Fichte justru berakhir dengan reputasi sebagai seorang idealis yang memandang “roh absolut” sebagai satu-satunya realitas tertinggi.

Individualisme yang awalnya begitu kuat dalam pandangan-pandangan Fichte, berakhir di bawah telapak kaki “roh absolut”.

Titik sentral pandangan filsafat Fichte terletak pada “diri”, “individu” atau “Ego”. Titik pandang inilah yang menyebaban Fichte dianggap sebagai salah satu penubuh egoisme dalam filsafat Jerman.

Baginya, tak ada perbedaan antara “apa yang seharusnya” dengan “apa yang sudah nyata”. Tidak penting pula pertanyaan apakah Tuhan itu ada atau tidak atau adakah akhirat sebenarnya. Itu tak penting, kata Fichte. Sebab, yang paling penting adalah bagaimana “saya” menyikapinya. Hal-hal metafisis apa pun, sepanjang saya memercayainya, dengan alasan atau tanpa alasan sekali pun, maka dengan sendirinya hal itu sudah eksis dan nyata.

Apa yang diungkap oleh indra sebagai data atau bukti bagi keyakinan yang mana pun, tulis Henry Aiken sewaktu hendak menjelaskan Fichte, “Hanyalah mungkin jika kita menganggapnya demikian dalam kaitannya dengan aturan-aturan penyelidikan yang sudah kita ciptakan sendiri dan kita yakin terhadap kebenarannya.”

Karena pandangan yang menekankan ego atau diri itulah maka Fichte merasa lebih cocok dengan pandangan “idealisme”, lebih tepatnya “idelisme subjektif”, yang berseberangan dengan “idealisme objektif”-nya Schelling. Kecocokan Fichte terhadap “idealisme” lebih karena “idealisme” dianggapnya lebih sesuai dengan pandangan dirinya mengenai kebebasan individu terhadap belenggu otoritas apa pun.

Jika “saya” menerima realitas alam, hal itu harus berdasarkan kehendak “saya” sendiri, dan bukan karena pertimbangan atau tekanan yang diberikan otoritas mana pun, entah itu negara, rasio imperatif-kategoris-nya Kant, norma-normal sosial atau apa pun juga.

Di titik ini, Fichte memang tampak memesona bagi para pemuja individualisme. Bagi, Fichte, misalnya, satu-satunya akses yang memungkinkan kita bisa mencapai atau memahami dunia empiris atau transempiris sekali pun adalah melalui sikap dan pandangan yang wajib kita buat sendiri.

Objek-objek penyelidikan, baik yang filsafat atau ilmiah sekali pun, bagi Fichte, bahkan tergantung pada fakta bahwa kita menganggapnya perlu untuk merumuskan, meneliti, atau menyelidikinya, demi tujuan-tujuan yang sudah kita tentukan sendiri.

Dalam kata-kata Fichte sendiri: “Objek apa pun yang wajib kita percaya apakah itu Tuhan, kehendak bebas, dan jiwa kekal maupun objek-objek empiris dari ilmu dan pengetahuan sehari-hari sebenarnya hanyalah tujuan yang memuaskan tuntutan diri….”

Bagi Fichte, semua persoalan yang dihadirkan oleh manusia, yang terpokok bukanlah sesuatu itu ada atau tidak ada, melainkan apakah ada arti praktisnya atau tidak bagi kita sendiri.

Dari sini, sekali lagi, tampak benar penghormatan Fichte terhadap kemerdekaan manusia. Pada akhirnya, jika boleh saya merumuskan, tak ada apa pun kecuali kesunguhan komitmen-komitmen kita dan loyalitas kita terhadap tujuan-tujuan kita sendiri.

Ini artinya, Fichte menolak teori kebenaran “korespondensi”. Teori ini menganggap bahwa sesuatu pernyataan/teori dianggap kebenaran jika ia berhubungan dengan sama persisnya dengan obyek yang sedang diteliti atau diselidiki. Fichte lebih pas dimasukkan ke dalam teori kebenaran “koherensi”. Teori ini menganggap bahwa kebenaran harus diuji berdasarkan kesesuaiannya dengan totalitas penegasan/tujuan yang harus kita kemukakan dan rumuskan lebih dulu.

Tujuan akhir pengetahuan hanyalah mengelola dan mengatur keyakinan-keyakinan yang kita yakini agar lebih memuaskan diri kita sendiri sebagai mahluk yang aktif. Dan satu-satunya bukti dari akurasi sistem berpikir demikian adalah kehendak diri kita sendiri untuk tetap setia pada keyakinan-keyakinan yang sudah kita atur dan kelola itu.

—————————–

:: Baca catatan-catatan saya yang lain di kuburan pejalanjauh

Explore posts in the same categories: filsafat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: