Memoar Kekejian

Sebuah kekejian yang paling brutal dan massal berhasil mengantarkan sebuah kata dimasukkan dalam kamus sebagai sebuah kata baku. Kata itu, “Gulag”, adalah kata yang mengingatkan umat manusia kepada abad-20 sebagai sebuah rentang waktu sangat mematikan yang di dalamnya jutaan orang terbunuh akibat, baik langsung maupun tidak, dua sekuel Peran Dunia.

Gulag (singkatan dari Glavnoe upravlenie ispravitelno-trudovykh lagerei), mulai dekade 1930-an, menjadi kamp kerja paksa di mana jutaan orang (lelaki, perempuan, tua maupun muda) yang dituduh sebagai musuh negara dijebloskan. Gulag memainkan peran sentral dalam praktik pemenjaraan dan kerja paksa massal di Sovyet dalam dalam periode kepemimpinan Joseph Stalin, sebuah periode yang dikenal sebagai Great Terror Period. Lebih dari sejuta orang dikirim ke sana, dan sekitar 900 ribu diantaranya meninggal di tempat itu juga.

The Gulag Archipelago ditulis oleh Solzhenitsyn mulai 1953, beberapa waktu setelah ia dipulangkan dari Gulag. Ya, Solzhenitsyn sendiri adalah korban Gulag. Apakah Solzhenitsyn berkhianat dan menjadi mata-mata? Sama sekali tidak. Ia ditangkap hanya karena pernah berkorespondensi dengan seorang teman sekolahnya. Ironisnya, Solzhenitsyn ditangkap saat menjadi prajurit Sovyet berpangkat perwira yang sedang bertugas untuk misi mengepung tentara Jerman.

Dari proses penangkapan Solzhenitsyn itu, teranglah bahwa Gulag adalah neraka yang bisa menelan siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Jangankan seorang yang nyata-nyata menjadi agen asing, seorang perwira dan bahkan pejabat penting pun bisa saja dijebloskan ke sana. Dengan membaca Gulag pula, kita jadi tahu betapa Gulag dioperasikan dengan sebuah sistem total, yang menggabungkan semua teknik penangkapan, interogasi dan penyiksaan, dari yang paling halus dan rapi hingga yang paling keji dan merontokkan mental dan fisik sekaligus.

Banyak contoh yang dipaparkan Solzhenitsyn. Pyotor Ivanish mendadak diberi dua tiket untuk berlibur. Dengan kegembiraan yang bukan kepalang, ia dan istrinya berangkat lewat stasiun. Di stasiun, suami istri itu didatangi seorang yang rapi, kharismatik dan sopan sembari mengaku sebagai teman lama. Orang itu menyalami istri Ivanish dengan hangat seraya meminta ijin untuk mengajak suaminya berbincang barang dua-tiga menit saja. Sang istri mengiyakan saja dan membiarkan suaminya digandeng pergi… untuk selamanya. Semuanya terjadi di siang bolong, di tengah stasiun yang ramai, tanpa sedikitpun kekerasan dan bentakan. Sedangkan penangkapan N.M. Vorabyev mewakili model penangkapan dengan kekejian. Vorabyev ditangkap ketika sedang menjalani operasi perut. Saat itu juga ia diseret dalam keadaan tidak sadar dan berlumuran darah (lih hlm. 3-25).

Tahanan kemudian dihajar habis-habisan selama berhari-hari atau ditahan berhari-hari tanpa diizinkan tidur, padahal ia duduk di sebuah sofa yang sangat empuk. Jika matanya mengatup, sepatu lars penjaga akan menghajar tulang keringnya. Beberapa tahanan ditelanjangi dan dimasukkan dalam sebuah kotak. Selama berjam-jam, beberapa prajurit mengintip kebugilannya sembari berggunjing dan tertawa cekikikan. Untuk tahanan yang memiliki harga diri yang tinggi, ia biasanya menyerah ketika diperlakukan dengan cara yang merendahkan martabat, misal dikencingi tepat di wajahnya. Benar-benar merobohkan mental dan fisik.

Lewat masterpiecenya ini, Solzhenitsyn berhasil membongkar semua praktik kekejian dan teror yang terjadi di Gulag. Ia berhasil melakukannya bukan semata karena pernah ditahan selama 8 tahun di sana, melainkan juga karena didukung ratusan korespondensi (laporan, surat, testimoni, memoir, catatan harian hingga obrolan sehari-hari) dengan 227 orang eks-Gulag yang sebagian masih disembunyikan identitasnya.

Kendati kaya informasi ihwal kekejian rezim komunis Sovyet, Gulag pada dasarnya diterbitkan bukan untuk membongkar kejahatan politik. Gulag ditulis Solzhenitsyn untuk mengingatkan umat manusia kepada sebuah prinsip moral atau, dalam kata-kata Solzhenitsyn sendiri, “sebuah garis pemisah antara baik dan buruk (yang) melintas di tengah semua hati manusia.” Gulag dengan demikian bisa dibaca sebagai buku yang kaya dengan dimensi politik yang ditulis dari sudut pandang moral.

Membaca Gulag dari sudut pandang moral berarti menyadari bahwa kekuasaan bisa digunakan dengan penuh kebajikan ataupun sarat kekejian. Tapi bahkan kekuasaan yang paling keji sekalipun, tetap tidak bisa total memadamkan api spiritualitas. Akan banyak orang yang menyerah dan mati, tapi akan selalu ada profil yang teguh dan terus menyala semangatnya. Profil macam ini dihadirkan oleh Solzhenitsyn dengan nama Ivan Denisovich lewat fiksi terbaiknya, One Day in the Live of Ivan Denisovich. Membangkitkan spirit, inilah tujuan yang ingin disasar Solzhenitsyn ketika menulis Gulag.

Awalnya, Gulag terbit dalam tiga volume dengan tebal mencapai 1800-an halaman. Untuk menjangkau pembaca yang lebih luas, Gulag yang super gemuk akhirnya dirampingkan Prof. Edward E. Ericson, Jr. Buku ini adalah versi ringkas Gulag tadi, dengan tanpa mengubah struktur dan gaya tulisan aslinya, dan terbit di bawah pengawasan Solzhenitsyn sendiri.

Begitu terbit di luar negeri, khususnya di negeri yang masuk Blok Barat, Gulag berhasil meruntuhkan kewibawaan Sovyet yang dari luar tampak megah karena berhasil mendongkrak sistem produksi, persenjataan dan ilmu pengetahuan (anda ingat Sputnik, kan?). Gulag menjadi, dalam kata-kata George F. Kennan, “Dakwaan yang terbesar dan paling dahsyat terhadap sebuah rezim politik yang… dipastikan akan memacetkan mesin propaganda Sovyet… dan membuat mesin itu makin lambat bekerja sampai tidak bisa berkutik lagi.”

Itu semua adalah pengakuan publik betapa Solzhenitsyn, lewat Gulag inilah, punya andil dalam melempangkan jalan bagi kehancuran Sovyet.

——————————–

:: Baca catatan-catatan saya yang lain di kuburan pejalanjauh

Explore posts in the same categories: sejarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: