Penangkapan Xanana

Goenawan Mohamad pernah menulis sajak berjudul “Penangkapan Sukra”. Di buku “Tidar: Bhakti Tiada Akhir, 40 Tahun Pengabdian AMN Angkatan 1965” saya membaca cerita tentang penangkapan Xanana.

Buku ini pernah saya baca reviewnya setahun lalu di Sinar Harapan. Kebetulan pada hari yang sama esai saya tentang pujangga Yasadipura juga tayang di koran yang sama. Tapi baru sekarang saya berkesempatan membacanya. Buku ini menarik karena baru kali ini saya membaca buku yang mencoba menggambarkan bagaimana satu angkatan di sebuah akademi militer berkiprah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Buku ini memang menyoroti alumni Akademi Militer Nasional di Magelang dari angkatan 1965. Theo Syafe’i, Sjamsir Siregar dan Yunus Yusfiah merupakan salah tiga alumni angkatan 1965 yang cukup populer.

Angkatan 65 ini memang menonjol. Pada era 90-an, dari 13 Kodam yang ada di Indonesia, 10 diantaranya dipimpin alumni 65 ini. Itulah sebabnya banyak suara sumbang terhadap angkatan 65 ini yang dianggap eksklusif dan nepotik. Tuduhan ini banyak dilontarkan oleh Jenderal R Hartono dari angkatan 62.

Ironisnya, kendati sempat mendominasi sejumlah posisi strategis, termasuk menguasai 10 dari 13 Kodam, tidak ada alumni angkatan 65 yang bisa menjadi Pangab. Dalam buku ini dikisahkan bagaimana R Hartono melakukan manuver untuk menjegal kemungkinan naiknya salah satu alumni angkatan 65 ke kursi Pangab. Dengan bantuan Prabowo yang waktu itu masih menjadi menantu Soeharto, R Hartono bukan hanya berhasil menjegal, ia sendiri kemudian yang menduduki kursi Pangab. Fenomena ini waktu itu dianggap sebagai kemunduran bagi ABRI karena Hartono sendiri dari angkatan 1962.

Salah satu bagian paling menarik dari buku ini adalah kisah tentang tertangkapnya Xanana Gusmao pada 20 November 1992. Menurut versi Theo Syafei yang waktu itu menjabat sebagai Pangkolakops, penangkapan Xanana ternyata bisa dibilang berbau “kebetulan”.

Cerita bermula dari bangkrutnya Bank Summa pada 1992. Ada kebijakan bahwa Bank Summa hanya bisa mengembalikan uang nasabah tak lebih dari 10 juta. Lalu ada seorang mahasiswa yang hendak mengambil uangnya memaksa agar semua tabungannya yang berjumlah 11 juta diserahkan. Tapi karena kebijakan tadi itu maka Bank Summa hanya bisa mengembalikannya sebanyak 10 juta. Mahasiswa itu ngotot meminta 11 juta.

Kebetulan waktu itu Theo ada di tempat kejadian. Naluri intelijen Theo muncul. Ia menanyai identitas mahasiswa tersebut. Ternyata mahasiswa itu anak orang biasa yang berasal dari daerah yang dikenal miskin. Uang 10 juta waktu itu jelas banyak sekali.

Karena curiga, rumah mahasiswa itu digeledah. Ternyata di sana banyak ditemukan mata uang asing dengan jumlah banyak. Dari situ terbongkar bahwa si mahasiswa itu adalah penghubung Xanana dengan dunia internasional. Setelah diinterogasi, akhirnya didapat info di mana Xanana bersembunyi. Keesokan paginya, Xanana dengan mudah tertangkap.

Cerita belum berhenti di situ. Theo lantas menelpon Pangab yang dijabat Try Sutrisno. Theo bertanya Xanana harus dibagaimanakan, apakah dbiarkan hidup atau langsung dihabisi saja. Jawaban Try begini: “Sik, sik, sik, mengko tak telpon!” (nanti, nanti, nanti… saya telpon lagi!).

Ternyata instruksinya kemudian Xanana dibiarkan hidup. Apakah sejarah akan berubah jika waktu itu Try langsung bilang Xanana dihabisi saja? Waduh, saya gak berkompeten menjawabnya. Lagian kan sejarah tak mengenal kata “if”. Mungkin Xanana mesti berterimakasih pada Try Sutrisno karena tak langsung menjawab: “Wes, pateni ae!”

Ada satu cerita lagi, ini juga masih menurut versi Theo Syafei. Xanana waktu itu ditangkap bersama dengan seorang perempuan anak SMA. Kata Theo: “Itulah kesukaan Xanana. Kan, untuk Xanana, harus ada perempuan di mana-mana.”

Entah Theo benar atau sedang membual!

—————————————

:: baca catatan-catatan saya yang lain di kuburan pejalanjauh

Explore posts in the same categories: sejarah

4 Comments on “Penangkapan Xanana”

  1. Lere Anan Says:

    Cerita diatas memang benar, bahkan Xanana saat ditangkap sedang sakit parah splilis, sehingga segera diobati oleh dokter ABRI. Jdi penangkapan Xanana ini justru menyelamatkan dia.

    • Indofuck Says:

      Ohhh,,jadi begitu, memang waktu itu., soeharto yg merencanakan itu semua supaya xanana meniduru istri soeharto ama anakanya istrinya prabowo

    • Indofuck Says:

      Cerita belum berhenti di situ. Theo lantas menelpon Pangab yang dijabat Try Sutrisno. Theo bertanya Xanana harus dibagaimanakan, apakah dbiarkan hidup atau langsung dihabisi saja. Jawaban Try begini: “Sik, sik, sik, mengko tak telpon!” (nanti, nanti, nanti… saya telpon lagi!)..,,,,,,
      Try sutrisno konsultasi ama istrinya tapi istrinya bilang jangan ., kan try udah ngk kuat jadi saya mau dia.,,,

      Hahahahahah

  2. joaquim Says:

    Yes,,,,,,,, harus diakui


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: