Muhammad Mampir di Monas

Posted May 27, 2008 by musyawarahbuku
Categories: sastra

Coba anda bayangkan, suatu waktu Nabi Muhammad yang ditemani malaikat Jibril nangkring di pucuk Monas dan juga sampai di lokalisasi di bilangan Pasar Senen. Kira-kira apa jadinya? Buku Pleidoi Sastra: Kontroversi Cerpen “Langit Makin Mendung” Ki Pandjikusmin bisa memberi sebuah kesaksian sekaligus jawaban atas pertanyaan itu.

Kurang lebih jawabannya begini: “Sepucuk belenggu bernama sensor akan mampir di meja redaksi majalah Sastra. Tapi tak cuma mampir, sensor itu juga membawa dua biji kado yang baunya agak sengak: (1) majalah itu dibredel kejaksaan dan (2) sang pemimpin redaksinya dihukum penjara selama satu tahun dengan masa percobaan dua tahun. Dakwaannya mengerikan: menghina agama Islam dan merusak akidah umat.”

Pertanyaannya, apa benar Muhammad dan Jibril pernah ke Jakarta dan mampir di Monas dan Pasar Senen? Tentu saja tidak. Sebab, peristiwa mampirnya Muhammad dan Jibril ke Jakarta hanya ada dalam sebuah cerpen. Cerpen “nekat” itu berjudul Langit Makin Mendung. Penulisnya bernama Kipandjikusmin. Cerpen ini diterbitkan di halaman pertama majalah Sastra edisi Agustus 1968, yang mana Paus Sastra Indonesia, H.B. Jassin, menjadi Pemimpin Redaksinya. Akibat pemuatan cerpen itu, majalah Sastra dibredel kejaksaan dan dan H.B. Jassin sendiri divonis setahun penjara oleh pengadilan. Read the rest of this post »

Revolusi di Surga yang Tersisa

Posted February 17, 2008 by musyawarahbuku
Categories: biografi

Kisah-kisah menakjubkan yang terpapar di memoar ini terjadi karena sebuah koinsidensi di suatu sore pada 1932 yang dingin diguyuri hujan. Ketika itu, seorang perempuan berdarah Skotlandia yang hijrah ke Amerika sedang gundah dengan dirinya sendiri. Ia pun berjalan-jalan di Hollywood Boulevard. Di depan sebuah bioskop, perempuan ini memutuskan untuk membeli karcis dan menyaksikan sebuah film berjudul, Bali: The Last Paradise.

Sekeluarnya dari bioskop, perempuan itu seperti menemukan hidup. Hanya beberapa menit seusai film itu kelar ditonton, ia sudah punya keputusan bulat: pergi dan menetap di Bali.

Beberapa bulan berselang, dengan mengendarai mobil yang dibelinya di Batavia, ia tiba di Surga Terakhir yang diimpikannya. Ia bersumpah baru akan turun dari mobil hanay ketika mobilnya kehabisan bensin. Dan di sanalah ia berjanji aman tinggal. Mobilnya berhenti persis di depan sebuah istana raja yang ia sangka sebuah pura.

Hati-hati ia masuki istana itu. Perempuan itu akhirnya disambut oleh sang raja dan seperti sebuah dongeng, ia diangkat menjadi anaknya yang keempat. Dan ia dinamai: K’tut Tantri. Read the rest of this post »

Al-Ghazali dan Ibu yang Diumpat

Posted January 30, 2008 by musyawarahbuku
Categories: agama-spiritualitas

Sejak dua hari lalu saya merencanakan untuk segera mulai membaca buku yang berisi dialog antara Arnold Toynbee dengan Daiseku Ukeda. Minggu kemarin saya sudah membaca buku yang mengisahkan dialog teologi antara Kardinal Martini, Uksup Kota Milan, dengan Umberto Eco, seorang ahli semiotik yang juga terkenal sebagai novelis. Saya sudah membaca salah satu novelnya yang paling terkenal, Name of the Rose.

Tapi karena pikiran saya sedang lelah dan kondisi fisik rasanya sedang memburuk, saya menangguhkan rencana itu. Dini hari tadi, menjelang tidur, saya putuskan saja untuk membaca buku yang kupikir lebih ringan: “Karung Mutiara al-Ghazali”.

Buku ini berisi sekitar 50-an cerita-cerita bijak yang pernah dikisahkan oleh al-Ghazali, pengarang Ihya Ulumuddin yang juga dijuluki Hujjatul Islam itu. Tak sampai satu jam, buku ini sudah berhasil saya selesaikan. Dan saya menemukan –setidaknya—dua cerita bijak al-Ghazali yang menarik. Dua cerita itu menarik karena memiliki kadar metaforik yang kuat dan satire yang berkadar humor cerdas. Read the rest of this post »

Aktivitas Soeharto pada 27 Januari 1969 dan 1971

Posted January 28, 2008 by musyawarahbuku
Categories: biografi

Satu jam setelah Soeharto meninggal, saya langsung mengobrak-abrik perpustakaan kantor. Aneh bin ajaib, dari ribuan buku yang bertumpuk dan berserak, saya hanya menemukan satu buku biografi Soeharto: Jejak Langkah Pak Harto: 28 Maret 1968 – 23 Maret 1973.

Padahal, saya ingat, beberapa bulan sebelumnya ada satu set buku biografi Soeharto dalam berbagai bahasa, termasuk buku terkenal berjudul “The Smiling General”, yang kelak menjadi salah satu julukan bagi Soeharto.

Saya belum sempat menelusuri perpustakaan di lantai bawah kantor dan di rungan chief editor saya. Jadi, hingga postingan ini ditulis, saya baru membaca buku Soeharto yang satu itu. Ini bukan biografi Soeharto. Buku ini lebih tepat dibaca sebagai kronik seorang Soeharto; di mana aktivitas Soeharto sebagai Kepala Negara dipaparkan day to day.

Lalu saya menelusuri entri bertanggal 27 Januari, tanggal kematian Soeharto. Hasilnya, dari 5 tahun aktivitas Soeharto yang dipaparkan buku ini, hanya tanggal 27 Januari pada 1969 dan 1971 saja yang tersedia. Ngapain aja Soeharto pada 39 tahun dan 41 tahun yang lalu pada tanggal yang kelak menjadi hari kematiannya? Read the rest of this post »

Hassan Hanafi seorang Fundamentalis!

Posted January 26, 2008 by musyawarahbuku
Categories: biografi

Dia dituding oleh kalangan kiri progresif sebagai ikhwani (baca: anggota Ikhwanul Muslimin), sebaliknya, oleh kalangan kanan-konservatif dia justru dicap sebagai komunis. Oleh tentara, namanya diberi jelaga sebagai ikhwani-komunis. Lantas, mana yang benar: Islam radikalis, komunis, atau…?

Selain menampik tegas tiga stereotip itu, lewat autobiografi berjudul Aku Bagian dari Fundamentalisme Islam ini, Hasan Hanafi menjelaskan ikhtiarnya yang tak kenal sudah di bidang pembaharuan (pemikiran) Islam dan juga sikap dan posisinya dalam hal fundamentalisme Islam, baik sebagai ide maupun praksis gerakan.

Fundamentalisme Islam baginya adalah gerakan yang memiliki visi dan pembentukan manusia seutuhnya agar mampu menggalang persatuan dan menjaga identitasnya. Ia tidak mesti menyeru penegakkan negara Islam tapi terlahir sebagai gerakan pembebasan negeri dari kaki tangan penjajah, baik di Sudan, Afghanistan, dll. Read the rest of this post »

Pribumi = Kera?

Posted January 25, 2008 by musyawarahbuku
Categories: sejarah

Buku “Dutch Culture Overseas” karya Dr. Francess Gouda menarik untuk dicermati karena ia mencoba menguraikan bagaimana persepsi kolonial dan orang-orang Belanda tentang Hindia Belanda, kita ini, berikut segala macam sikap sinisme, rasisme atau kadang rasa hormat dan hangat.

Dari semua bab di buku ini, bab 4 –bagi saya– menjadi bagian paling menarik. Pada bagian inilah Dr. Gouda memaparkan bagaimana orang-orang Belanda (sekaligus juga orang Eropa) membangun pemahaman ihwal siapa sebenarnya “orang-orang pribumi”. Secara ringkas, bab sepanjang 75 halaman ini menguraikan bagaimana prasangka rasial terhadap orang-orang pribumi dibangun. Dengan menelusuri artikel-artikel, catatan perjalan, guntingan berita, catatan harian, surat-surat dan novel-novel, penulisnya mencoba memaparkan betapa “rendahnya” orang-orang pribumi di mata orang-orang Eropa kala itu.

Bab ini menarik secara intelektual karena penulisnya mengkonfirmasi semua kutipan-kutipan yang ia temukan dengan teori-teori evolusi di bidang biologi, dari mulai Darwin, Ernest Haeckal, Herbert Spencer, hingga Lamarck. Read the rest of this post »

Filsafat yang “Egois”

Posted January 22, 2008 by musyawarahbuku
Categories: filsafat

Johann Gottlieb Fichte benar-benar filsuf yang amat asing buat saya. Kalau tidak salah, filsuf ini pertama kali aku baca namanya di novel Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder. Tapi, seperti apa pandangan dan ide-idenya saya betul-betul awam, tak tahu barang secuil pun. Mengenaskan sekali saya ini. Hehehe….

Sewaktu kemarin sore saya menemukan bukunya Henry D. Aiken, The Age of Ideology, saya langsung saja tancap gas menuju bab II yang memaparkan pandangan filsafat Fichte, filsuf yang di awal karirnya sebagai filsuf tampil penuh semangat sebagai pembela semangat individualisme yang dikobarkan oleh Revolusi Prancis. Sayangnya, dari seorang yang begitu semangat membela kebebasan individu dari segala macam otoritas, karir filsuf Fichte justru berakhir dengan reputasi sebagai seorang idealis yang memandang “roh absolut” sebagai satu-satunya realitas tertinggi.

Individualisme yang awalnya begitu kuat dalam pandangan-pandangan Fichte, berakhir di bawah telapak kaki “roh absolut”. Read the rest of this post »