Siti Hawa dari Afrika

Lynn Margulis mengajukan sebuah teori mengenai “African Eve” alias “Siti Hawa dari Afrika”. Benarkah Siti Hawa yang dipercaya oleh tiga agama samawi itu berasal dari Afrika? Jika benar demikian, apa itu berarti ada darah Afrika dalam tubuh kita semua? Richard Dawkins, profesor dari Oxford, mencoba menjelaskannya dalam bab II bukunya yang menarik, “Sungai dari Firdaus: Suatu Pandangan Darwinian tentang Kehidupan”.

Saya membaca pandangan Dawkins pertama kali dari buku Ed Sexton yang diterbitkan Jendela pada 2003, “Dawkins dan The Selfish Gene”. Dari buku tipis itulah saya sudah merasakan kecenderungan Darwinian dari seorang Richard Dawkins. Buku “Sungai dari Firdaus”, yang di-subjuduli-i “Suatu Pandangan Darwinian tentang Kehidupan”, makin menegaskan hal itu.

Bab I buku ini, yang mencoba menjelaskan mengenai DNA dan pelacakan penyebaran umat manusia dengan melacak cetakan DNA, dengan tanpa basa-basi diakui oleh Dawkins sendiri sebagai tulisan yang sepenuhnya dibentuk oleh teori evolusi Darwin. Secara metaforik, Dawkins bahkan menyebut pandangan Darwin sebagai “puisi paling indah tentang kehidupan”.

Saya membeli buku ini karena mengetahui di sini Dawkins akan menjelaskan teori Lynn Margulis, seorang penelitit DNA dan genetika dari Universitas Massachuttes, mengenai African Eva atau Siti Hawa dari Afrika. Saya penasaran karena waktu itu saya membayangkan betapa hebohnya jika teori itu benar. Runtuh sudah semua argumen-argumen rasis Hitler, Mussolini atau orang-orang Ku Klux Klan di Amerika.

Sejumlah mitologi dari pelbagai peradaban punya wiracerita sendiri-sendiri mengenai asal usul mereka. Orang-orang pemeluk agama samawi atau Ibrahimiyah (Yahudi, Kristen atau Islam) mengenal Adam dan Hawa, bangsa Sumeria mengenal cerita Marduk dan Gilgamesh, bangsa Yunani punya cerita Zeus, Hera dan penghuni gunung Olympus, bangsa Viking di dekat kutub utara mengenal Valhalla, bangsa Bugis mengenal Sawerigading, dll.

Setelah membaca paparan Dawkins tentang African Eve, saya baru tahu bahwa persoalan tidak sesederhana itu. Apa yang disebut African Eve (kadang disebut Mythocondria Eve) memang berasal dari Afrika atau mukim di Afrika. Tapi, tidak sesedernaha itu untuk langsung menyimpulkan bahwa leluluhur kita berasal dari Afrika.

Kesalahapahaman macam itu, seperti yang saya alami sebelum membacanya, banyak berlangsung di seputar teori African Eve ini. Keliru jika menyebut Eve atau Siti Hawa dalam teori Margulis sebagai perempuan yang kesepian, perempuan satu-satunya di muka bumi, bahkan kadang digunakan untuk mendukung Kitab Genesis.

Yang dimaksud dengan African Eve adalah leluhur paling muda dari seluruh umat manusia modern berasal dari seorang perempuan Afrika. Dia hidup sekitar 150 ribu sampai 250 ribu tahun silam.

Ada dua catatan di sini. Pertama, African Eve adalah leluhur kita yang paling muda, persisnya leluhur dari garis perempuan. Semuanya dilacak melalui penelitian DNA mitkondria. Nah, mitokondria kita ini pasti berasal dari garis ibu. Jadi, apakah Anda lelaki atau perempuan, semua mitokondria kita berasal dari garis ibu, bukan dari ayahmu. Asyiknya lagi, mitkondria ini tak akan pernah bisa tercemar, sehinga keutuhannya tidak terpotong-potong atau tumpang tindih oleh percampuran genetis dari satu generasi ke generasai. Setelah dilacak, mitkondria umat manusia modern ternyata berasal dari seorang perempuan Afrika.

Kedua, masih banyak jalan lain untuk menjadi manusia di luar garis keturunan perempuan. Masalahnya, informasi yang ajeg dan tak berubah itu hanya ada dalam DNA mitokondria, sehingga di luar itu sangat susah untuk melacak dan menelusuri hingga di mana jejak genetika kita dari –misalnya—jalur bapak atau lelaki.

Ketiga, bukan berarti pada masa itu tidak ada manusia di luar benua Afrika. Sama sekali tidak. Masalahnya, manusia di luar benua lain itu kemungkinan sudah musnah dan tak sempat menyisakan keturunan yang memungkinkan penelitian dan penelusuran melalui DNA mitkondria itu dilakukan.

Keempat, selain “leluhur termuda kita menurut garis perempuan” (DNA mitokondria), sudah pasti ada leluhur termuda dari semua umat manusia, termasuk leluhur dari African Eve. Dia bisa jadi perempuan tapi bisa juga lelaki. Dawkins menyebut “leluhur termuda umat manusia” sebagai Focal Ancestor.
Ada beberapa kutipan menarik dari Richard Dawkins di buku ini, di antaranya:

(1) Kisah Siti Hawa Afrika merupakan mikrokosmos sempit umat manusia yang mencerminkan wiracerita yang lebih agung dan jauh lebih purba.
(2) Sains punya kesamaan dengan agama dalam mendaku dapat menjelaskan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang asal usul, kodrat kehidupan, dan jagat raya. Tetapi di sanalah kesamaan itu berakhir. Kepercayaan ilmiah di dukung oleh fakta, dan ada hasilnya. Mitos dan agama tidak didukung dengan fakta dan dari kinerjanya tidak ada yang dihasilkan.
(3) Nyanyian burung bulbul, ekor ayam pegar, kerlip kunang-kunang dan sirip warna pelangi ikan karang tropsi semuanya merupakan maksmalisasi kecantikan estetis, tetapi bukan merupakan keindahan untuk kenikmatan manusia.
(4) Mengapa pohon-pohon di hutan begitu tinggi? Semata-mata untuk lebih tinggi daripada pohon yang lain.

———————————————–

:: baca catatan-catatan saya yang lain di kuburan pejalanjauh

Explore posts in the same categories: sains

5 Comments on “Siti Hawa dari Afrika”

  1. danu Says:

    teori darwin sebagai “puisi paling indah ttg kehidupan”? hmmm….

  2. anung Says:

    aku dah baca buku ini, tp mumet. hihihihi

  3. sandal Says:

    Kalau saya lebih tertarik dengan suatu teori tidak sahih tentang asal mula manusia yang berasal dari Tanah Jawa. Warna kulit kita cokelat, tinggal dirubah tone-nya maka akan menjadi hitam atau putih. Bagaimana mungkin kulit putih menghasilkan kulit hitam dan kulit hitam menghasilkan kulit putih?

    Oh iya, sudah pernah dengar tentang Ratu Balqis di jaman Nabi Sulaiman yang ditenggarai sebagai ratu dari Afrika dan berkulit hitam? Sayang saya lupa darimana saya mendapatkan cerita ini.

  4. yundi Says:

    Alhamdulillah kalo ada teori semacam itu.Semoga aja ras manusia segera sadar bahwa sebenarnya mereka tidak ada perbedaan satu sama lain,yang membedakannya hanyalah akhlaknya.Kalo kita semua berpikir bahwa kita semua saudara…wah luar biasa!Planet ini mungkin bisa menjadi lebih indah dengan menusia yang lebih lembut,Semoga.Amin.

  5. nino Says:

    memalukan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: